Follow Me @alfi_poenja

Kamis, 01 November 2018

Mendulang Stok Sabar bersama Balita


Memang tidak mudah menjadi orang tua. Apalagi, menghadapi anak-anak usia balita yang sedang lincah-lincahnya.

Tidak cukup hanya bermodalkan suara, Sobat. Kita juga musti putar otak untuk bikin anak-anak 'nurut' sama kemauan kita.

Si anak yang lagi gelayutan di korden pintu, dikasih tau supaya berhenti, bukannya berhenti malah makin kenceng gelayutan.

Nah, kan.. uda mulai pinter naik kursi segala. Wkwkwk. 

Masya Allah.. kalo tidak sabar, bisa-bisa ni anak terlempar ke langit-langit nih! #NasibMamaknyaWonderWomen

Yup, betul! SABAR.

Satu kata lima huruf inilah yang mesti kita punya stoknya tiap hari. Kalo perlu, kita timbun malah.

Menghadapi anak-anak yang aktif dan kreatif, juga kritis, menuntut kita untuk punya gudang sabar lebih lebar dibanding ibu-ibu yang lain.

Saya kadang heran sih sama salah satu temen yang anaknya so sweet banget kaya princess. Disuruh emaknya apa, dia nurut aja. Disuruh A dia A, B ya dia B, gitu aja terus.

Sampe-sampe saya iseng tanya, "Anakmu dikasih makan apa sih, kok bisa nurut gitu".

"Hahaha, REJEKI", katanya.

Iya, betul. Anak adalah rejeki dari Yang Maha Kuasa. 

Yang namanya rejeki, harus kita syukuri dong. Bagaimana pun bentuknya.

Mungkin, kita nggak suka sama bentuk rejeki yang model begini. Tapi kita nggak pernah tau loh, mana yang terbaik buat kita.

Bisa jadi, anak yg aktif macam ini adalah yang terbaik buat kita. Salah satunya, kita jadi belajar sabar dan ikut aktif juga supaya bisa ngejar anak kita.

Anak yang kritis bikin kita jadi punya pikiran yang terbuka dan mendorong kita untuk belajar banyak hal.

Si kecil yang kritis bikin kita jadi ikutan belajar juga dong. 

Dan beragam model anak yg lainnya, pasti membuat kita sebagai orang tua makin 'pinter' dalam menjalani hidup bersama mereka.

Saat sedang lelah, saya kadang merasa perlu cari me time biar bisa relaks dan tetap sehat jiwa raga. Baik, itu perlu dan sah-sah saja.

Di saat hayati lelah, bayangin me time asyik banget ya.

Tapi, perlu kita ingat. Jangan jadikan anak-anak kita beban. Mereka adalah amanah dari Tuhan yang dititipkan pada kita.

Maka, sebaik- baik hambaNya adalah yang mampu menjaga amanah dengan penuh tanggung jawab.

Kalo uda gitu, saya flashback lagi pada kehidupan kami di awal menikah.
Dulu, kami begitu mengharapkan hadirnya suara bayi di tengah-tengah keluarga ini.

Dulu, rumah ini terasa sepi karena hanya berisi orang-orang dewasa yang sibuk dengan rutinitas masing-masing.

Alhamdulillah, di saat yang tepat, Allah swt mengabulkan doa-doa kami.

Hello, sweetheart. 
Dihadirkannya seorang bayi yang lucu menemani hari-hari kami.

Kalo inget itu, saya jadi merinding.
#BukanMerindingDisco

Masya Allah, betapa Maha Besar KuasaMu.

Hanya Engkau yang Maha Kuasa menciptakan makhluk meski kami telah mencoba beragam cara.

Lalu, saya jadi ingat perjuangam teman-teman yang mengharapkan hadirnya momongan di tengah-tengah keluarga.

Kalau sudah demikian, hanya rasa syukur yang buncah dalam dada.

Terima kasih ya Allah, telah Kau anugerahkan pada kami putra-putri yang sehat wal'afiat. Semoga Engkau jadikan mereka hamba-hambaMu yang sholeh-shalihah, berbakti kepada orang tua, taat beribadah, panjang umur, sehat wal'afiat, serta berguna untuk nusa, bangsa, dan agama. Amiiin.

Tegak lagi kepala Bunda.

"Let's go, gaes! Kita main apa lagi hari ini??"

Indahnya main bersama dalam damai.

Kyaaa... Huaaa... Oeeekkk.. Oeeekkk..
#KeliatannyaPadaRebutanMainanLagi

Fiuh..!
Sabar, Bun..

Psst, Sobat Bunda punya momentum mencerahkan apa nih tentang kesabaran??

Bagi dong..

PS: pictures by pexels.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar