Follow Me @alfi_poenja

Kamis, 25 Oktober 2018

Sosial Media dan Penyakit Hati


Oleh: Ayu Tanimoto

Tidak dipungkiri, sosial media banyak memberi manfaat bagi kehidupan kita sehari-hari. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan sosial media sebagai sarana mencari nafkah. Mulai dari polgan (polisi ganteng), satgan (satpam ganteng) ataupun guru cantik yang mendadak tenar dan laris di endorse sana-sini. Namun sayangnya, saat tetangga mengupload foto mobil baru atau check in lokasi dari Paris, sosial media kerapkali menjadi ladang tumbuhnya penyakit hati.

Menurut saya, ada dua pilihan sikap yang bisa kita lakukan ketika melihat kesuksesan teman
Pertama, ikut senang. 
Kedua, sirik.

Tidak dipungkiri, memiliki perasaan ikut senang memang tidak akan semudah memiliki rasa iri. Saya-pun kerap sirik dengan kemudahan ataupun kesuksesan teman lain. Tapi perasaan iri tersebut tidak lantas saya pelihara, saya memilih menyikapi rasa iri tersebut dengan bijaksana. 

Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah dengan mengevaluasi diri. Saat iri melanda, seringkali saya mengambil waktu 20-30 menit untuk berkontemplasi, berbicara dengan diri saya sendiri. Melontarkan berbagai pertanyaan dibawah ini.
  • Apa saja yang sudah teman kita lakukan sehingga bisa sukses?
  • Berapa jam waktu dalam sehari yang dia lakukan untuk mengurus pekerjaan atau bisnisnya?
  • Seberapa giat dia bersujud, memohon kepada Tuhan akan kelancaran usahanya?
  • Seberapa banyak dia bersedekah? dan lain sebagainya.
Saya akan menjawab dengan sejujurnya, toh hanya Allah dan diri sendiri yang tau. Buang rasa malu dan gengsi, kalau perlu nangis aja sepuasnya. Setelah puas dan mampu berpikir jernih, bernafaslah dengan tenang, ingat kembali jawaban pertanyaan anda tadi. 

Seusai melakukan hal diatas biasanya akan lebih mudah bagi saya untuk mengucapkan "aku ikut senang atas keberhasilanmu" dengan tulus. Sedangkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas tadi yang saya jadikan lecutan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan siap menjemput kesuksesan.

Pada akhirnya, berterima kasihlah untuk setiap rasa dalam hidupmu. Begitupun dengan rasa marah, tidak ada yang salah dengan perasaan marah dan kecewa. Karena dari situ kita belajar untuk bangkit dan memaafkan.

Profil Penulis: 


Ayu Tanimoto, tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab. 

Penulis bisa dikunjungi di www.ayutanimoto.com atau via instagram dan twitter: @AyuTanimoto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar