Follow Me @alfi_poenja

Kamis, 25 Oktober 2018

Doa Mama untuk Kakak


Oleh: Hotdiana Nababan

“Ya Allah, hapuskanlah segala kenangan yang buruk sepanjang hari ini dan gantikanlah dengan sesuatu yang baik yang akan dikenang kedua putiku ini kelak”.

Itu adalah doa harian yang menutup rutinitas sepanjang hari ini. Doa hapalan yang menjadi wajib kulantunkan setiap malamnya setelah mengantarkan mereka tidur. Doa yang selalu dengan penyesalan karena gagal meredam amarah. Doa pengharapan bahwa kegagalan pun akan dipakaiNya menjadi sesuatu yang baik.

Betapa tidak, entah berapa adengan yang terjadi di luar kendali. Hiruk-pikuk, hingar-bingar, pekikan, teriakan, ancaman dan mulai sering cubitan atau pukulan di kaki. Betapa tidak, aku ini mama yang adalah manusia biasa. Aku tahu rumus parenting yang bilang mama harus lembut bahkan untuk bilang ‘jangan’ pun harus diganti dengan kalimat positif. Terkadang letih lelah karena pekerjaan tidak mampu menjaga tone bisa stabil sepenjang harinya.

 “Kakak jangan dibuang rotinya”. Ah, tidak boleh pakai kata ‘jangan’.

“Kakak, dua saja keping saja dulu, ntar bisa ditambah”. Dia melanggar instruksi mamanya.

“Kakak, jangan langsung lima dicelupkan, ntar tidak habis, sayang bila terbuang”. Lagi-lagi dia tidak segera melakukannya.

 “Kakak, ingat lho cerita telur emas, keluarga mereka menjadi miskin karena anak-anaknya menghambur-hamburkan makanan”

Eh, dia malah menjawab, “Nggak lho Ma, habisnya nanti Ma”.

 “Kakak......., teriakku lebih panjang dan meninggi. “Kakak, dibilangi sekali mengapa tidak dengar, dibilangi lembut mengapa tidak dilakukan, dibilangi kuat masih saja melawan”, diikuti rentetan nada bernada do tinggi semua yang entah sudah berapa kali kuulangi setiap kali dia membuang-buang makanan.

                Akhirnya, aku gagal lagi hari itu dan hanya Tuhanlah yang tahu dan sanggup menalarkan semua itu di benaknya. Tak ada kekuatan manusia. Hanya tuhan yang sanggup memberi pengertian dan mengubah hati manusia. Oleh karena itu, doa adalah hukum parenting utama terhadap anak.

“Kakak, Mama minta maaf ya tadi sudah marah-marah sama kakak”, Pintaku saat aku mengantarnya untuk tidur di malam harinya.

“Ga pa pa Ma, memang aku yang salah”, balas putriku yang berusia lima tahun.

“Emang, apa salahnya Kakak?, tanyaku untuk memperkuat pembelajaran hari itu.

“Aku buang-buang makanan tadi”, jawabanya dan aku berharap ia mengingat itu dan tidak mengulanginya lagi.

“Ya, besok jangan diulang lagi ya”,  tegasku lagi sambil memeluknya walau belum ada jaminan ia tidak akan mengulanginya esok hari. Setidaknya pelukan hari ini, mendamaikan  hatiku dan hatinya.  

Pelukan itu adalah bonding bagi kami. Pelukan itu adalah usahaku untuk menghapus yang buruk menjadi sesuatu yang baik.

Ah, ini hanya sekelumit pengalamanku mendidik putri pertamaku. Setiap orang tua punya gaya mendidik anak-anak mereka. Sebab ada banyak perbedaan antara teori  dengan praktik. Banyak perbedaan antara harapan dan kenyataan. Tetapi yang pasti jangan pernah lelah mengajarkannya berulang-ulang saat berbaring, saat bangun, saat duduk di rumah ataupun saat sedang dalam perjalanan. 

Profil Penulis:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar