Follow Me @alfi_poenja

Minggu, 08 Juli 2018

4 Trik Menyelamatkan Gaji Bulanan


 Sering saya salah mengartikan rezeki hanya dalam bentuk uang. Padahal, rezeki memiliki arti yang sangat luas.

Kita diberi umur ini saja sudah merupakan rezeki. Keberadaan kita di dunia ini adalah rezeki dari Yang Maha Kuasa.

Setiap makhluk telah dijamin rezekinya oleh sang Pencipta. Hendaknya, tiadalah ragu hati setiap manusia akan rezeki yang telah dijanjikan-Nya. Ia pasti datang menghampiri di saat yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Tapi, namanya manusia tak lepas dari silap. Seringkali di pertengahan bulan, kita buka dompet atau cek saldo rekening. Teririslah hati dan meleleh air mata seperti saat mengiris bawang.

Antara saldo dan keinginan sudah tak sejalan. Saldo entah ke mana rimbanya. Sementara, keinginan hati makin bergolak-golak ingin dipuaskan.

Belum lagi saat buka hape, etalase online melambai-lambai menambahkan godaan. Itu, etalase dari instagram, facebook, marketplace, atau dari status WA.

Astaghfirullahal'adzim.

Di lain pihak, saat melihat catatan pengeluaran rutin, ternyata ada juga yang  belum terbayarkan. Entah itu SPP anak, arisan bulanan, premi asuransi, atau malah susu dan diaper yang lupa belum terbeli. Bahkan, mungkin hutang dan zakat lupa belum disisihkan.

Jangan sampai lho, ya..

Beri kami kekuatan untuk menghadapi kenyataan hidup, ya Rabbi. Supaya kami tidak lari dari kenyataan atau bersepeda dari kenyataan.

Demikian guyonan salah satu teman yang jadi caption foto di instagram. Guyonan yang lebih parah lagi adalah bertamasya dari kenyataan. Aslinya sudah collaps, tapi tetap aja foya-foya.

Jika sudah seperti ini, kita harus melakukan 4 langkah penyelamatan ini:

1. Tegas pada diri sendiri

Buat skala prioritas. Kebutuhan mana yang harus didahulukan dan mendesak.
Ingat ya, kebutuhan. Bukan keinginan.

2. Jauhi sumber-sumber informasi yang memunculkan gejolak keinginan berlebih

Jika perlu, bisukan saja status WA para juragan online shop. Unfollow mereka.
Atau mau yang lebih aman lagi, sekalian ndak usah pasang aplikasi medsos di hape. Biar jari-jari kita tidak terpeleset buka-buka etalase online lagi.

Eh, tapi kadang godaan datang dari lingkungan nyata di sekitar kita sih. Misalnya lingkaran terdekat kita. Lebih repot lagi kalo kita termasuk golongan social climber.

Mau gabung setiap event, dana kita pas-pasan. Mau absent, takut dianggap nggak loyal.

Wah, kalau untuk urusan yang satu ini, saya kembalikan ke Sobat Bunda aja deh. Tinggal mana yang jadi prioritas.

Kalau saya pribadi sih, pilih hidup nyaman dengan kekuatan yang ada sekarang. Berteman itu bisa dengan siapa aja dan golongan apa saja.

Tapi kalau gaya pertemanannya musti mengorbankan finansial keluarga, saya pilih skip aja deh. Bukan rezeki saya, haha.

3. Rem keinginan shopping

Saya pernah baca buku tentang finansial keluarga bahwa memang tidak mudah menghentikan kebiasaan shopping. Hal yang paling realistis adalah menambah income kita. Kata buku itu.

Namun, kenyataan yang sudah saya alami sendiri, menambah income juga tidak mudah. Bahkan, mungkin butuh modal iang yang tidak sedikit.

Jadi, alangkah baiknya jika kita rem saja dulu keinginan untuk shopping atau sekedar window shopping.

Sekalinya kita cuci mata, eh ada cuci gudang. Pasti sayang melewatkan sale barang-barang branded  yang cuma diobral setahun sekali misalnya.

Kita jadi kelimpungan deh cari dana untuk memenuhi anggaran nafsu sesaat ini.

4. Belanjakan pos anggaran segera setelah gajian

Betapa beruntungnya kita yang masih bisa terima gaji setiap bulan. Entah itu gaji dari pekerjaan kita sendiri, gaji suami, atau dari pemasukan rutin yang bisa kita harapkan.
Setelah gajian, biasakan untuk segera menyalurkan dana ke pos-pos anggaran yang jadi kewajiban kita, misalnya:

Zakat,
Hutang,
Gaji asisten,
Dana pendidikan,
Belanja kebutuhan makan,
Toiletries,
Susu,
Diapers,
Bahan bakar kendaraan,
dll.

Ilustrasi di atas untuk pengelolaan gaji bulanan ya. Setelah terima gaji langsung masukkan anggaran ke pos-pos tersebut. Dan segera dibayar.

Soalnya, kalo masih numpuk jadi satu, biasanya kita jadi merasa 'kaya'. Suka lupa diri kalo nge-mall. Nggak taunya, uang kita sudah punya alamat yang harus dibayarkan.

Nah, ini penyakit banget. Seperti ilustrasi kita di awal tulisan tadi. Tau-tau lupa gaji si Mbak asisten belum dibayar. Padahal uangnya sudah terlanjur habis buat beli sepatu. Bahaya, kan.

Bunda biasanya pake metode amplop (kuno banget ya, haha). Tapi ini efektif lho.
Jadi, Bunda siapin amplop sejumlah pos anggaran yang harus dikeluarkan. Lalu, Bunda tulisin pake spidol gede-gede nama posnya. Biar mata ndak siwer lalu lupa ambil uang itu buat saweran ke online shop. Hehe.

Setelah semua dana masuk ke amplop  pos anggaran, hati rasanya lemes. Kok nggak ada sisanya ya?? Hahaha.
Tapi, its better. Karena semua uang sudah dibelanjakan sesuai posnya.

Habis itu, simpan amplop di dompet lain. Jangan di dompet yang biasa kita tenteng ke mana-mana. Nanti muncul perasaan 'sok kaya' lagi.

Pada tanggal yang telah ditentukan, segera bayarkan dana tersebut sesuai pos anggaran. Misalnya, waktu bayar SPP anak tanggal 5 sampe tanggal 15 setiap bulan. Sebisa mungkin, dana tersebut sudah dibayar pada tanggal 5.

Trus, buat Sobat Bunda yang biasa terima gaji bulanan, sebaiknya belanjanya juga bulanan.

Biar apa? Biar lebih hemat. Pasti uda sering coba kan. Utamanya para mahmud (mamah muda) dan bundmud (bunda muda) nih.

Beli susu anak yang kemasan 200 gram sama kemasan 800 gram, kira2 kalo diitung lebih murah mana buibu??

Dan lagi, dengan sekali belanja dalam porsi besar akan meminimalisir kita untuk bolak-balik ke toko, swalayan, atau supermarket. Artinya juga meminimalisir kita untuk tergoda belanja-belanji yang nggak perlu.

Nah, itu tadi sedikit sharing dari Bunda untuk menyelamatkan keuangan keluarga.

Sobat Bunda punya trik jitu apa lagi nih? Bagi dooong tips nyaa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar