Follow Me @alfi_poenja

Rabu, 27 Juni 2018

Bijak dalam Mengelola Akun Media Sosial


Setiap niat yang baik pasti akan diuji. Demikian pula niat saya untuk undur diri dari hiruk pikuk media sosial.

(Hm, karena satu dan lain hal, saya anggap niat saya ini baik).

Tapi, ada juga rasa sayang. Karena saya memang merintis jalan untuk menjadi blogger dan vlogger.

Kehadiran media sosial terasa sangat membantu dalam menyebarluaskan karya saya di dunia maya. 

Apalagi jumlah follower saya sudah mulai meningkat. Dan itu saya dapat dengan jalan yang tidak mudah.


Saya sih ogah beli follower ya. Ngapain buang-buang duit buat dapetin hasil yang nggak asli.

Berdasarkan saran beberapa teman blogger dan vlogger, saya mengunggah foto-foto yang bernilai personal. Bukan untuk pamer atau riya' ya. Tapi untuk menjaring follower dan menikatkan engangement.

Selain itu, seringkali event-event blogger dan peluang job saya dapatkan dari link di media sosial.

Namun, Tuhan mengingatkan saya dengan peristiwa yang bikin nyeseg dan rasanya nyebelin banget.

Ada orang yang menggunakan foto saya di medsos untuk tujuan yang nggak benar. 

Meskipun kesal, saya berusaha untuk tetap rasional dan bersabar. 

Apalah saya ini. Hanya serpihan debu yang tercecer di tepi jalan. Sudah mendapatkan tekanan macam ini.

Bagaimana pula dengan para selebritas yang tersohor hingga seantero jagad? 

Pasti mereka mendapat tekanan yang lebih dahsyat. Belum lagi munculnya haters yang kadang ulahnya uda di luar batas kewajaran.

Tapi mereka tetap tegar. Malah berseru lantang dengan semboyan: "Haters make me famous". Hahaha.

Sometimes, saya pengen juga teriak lantang macam itu.

Tapi, hati nurani saya berkata lain.

Apalah arti kata famous, kalo untuk mendapatkannya kita harus mengorbankan hal-hal yang lebih mendasar.

Biarlah saya korbankan saja keinginan untuk jadi blogger & vlogger kenamaan. Let say, bukan rejeki saya.

Toh, kita nggak pernah tau di mana rejeki kita. Satu hal yang saya yakini, rejeki nggak akan tertukar. Rejeki nggak akan salah alamat.

Allah swt Maha Kaya. Dia juga Maha Pengasih dan Penyayang. 

Doa saya semoga pengunduran diriku dari media sosial adalah jalan diridhoi-Nya. Dan semoga menjadikan aku dan keluarga menjadi hamba-hamba yg disayang oleh-Nya. Amiin.

Last but not least, media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi dia memberi manfaat. Di sisi lain, dia bisa mencelakai. Oleh karenanya, kita harus berhati-hati dalam menggunakannya.

Bukan berarti saya anti-medsos. Saya hanya berusaha untuk memperbaiki diri dalam memanfaatkan media sosial.

Suatu saat, mungkin saya akan kembali memiliki akun medsos. Tapi, saya pastikan bukan untuk mempopulerkan diri saya dan keluarga.

Saya akan gunakan akun medsos buat berdagang aja, ah.

Salam,

Bunda.

6 komentar:

  1. Hai alfi, turut bersedih ya. Medsos tetap bisa digunakan kok tapi gunakan dengan cara tersendiri. Tapi saya juga kadang sedih kalau ada yang menyalahgunakan foto saya. Semangat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak tikha. Iya mba, aq skrg lebih selektif aja kalo mau posting foto yg personal atau ada gambarny anak2 atau keluarga.

      Hapus
  2. wah mba kok ngeri yah. digunakan untuk apa mba fotonya, kalau boleh tau? semoga dapet balasan yg stimpal ya mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih atas simpatinya mba nabila.
      Doaku, semoga yg melakukan mendapat hidayah dan keluarga ku selalu mendapat perlindungan dr Allah swt. Amin.

      Hapus
  3. Semoga mbak Alfi dan keluarga selalu diberi perlindungan oleh Allah SWT ya.. AQ kadang juga jadi dilema mbak saat menjalani keseharian sebagai blogger, tapi pada akhirnya sering maju mundur cantik, ga terlalu menggebu, dan upload yg umum dan unpridictable, soalnya juga cukup membahayakan kalau kegiatan kita dipelajari org. Sharingnya mbak Alfi penting banget buat kita tetap awas😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mels.. better lebih selektif aja sih memang.

      Thanks utk doanya mels.. doa yg sama juga utk keluargamu sayang. amin3 yaa robbal'alamiin.

      Hapus